Maira
Empat
puluh delapan bulan sudah gadis kecil itu hanya terbaring. Tubuhnya yang dulu
gempal menggemaskan, kini tampak tulang berbungkus kulit. Tak ada lagi keceriaan
pada raut kuyunya. Tatapannya kosong, menerawang jauh berusaha menahan agar
cairan bening dari sepasang matanya tak tumpah. *** “Bunda,
Maira mau ikut sahur juga,” tiba-tiba suara parau gadis kecil itu memecah
keheningan. Seorang perempuan jelita yang duduk di sebelah pembaringan
putrinya itu tersentak. Ia paham betul ini Ramadhan keempat buah hatinya ingin
turut menunaikan ibadah puasa. Netranya memandangi selang impus yang tersambung
ke tangan mungil gadis kecilnya, dan menyadari bahwa ini keempat kalinya pula
ia mesti menolak permintaan darah dagingnya tersebut. “Bunda minta maaf! Maira belum bisa ikut puasa tahun ini,”
suaranya bergetar menahan isak. “Bunda udah bilang gitu sejak Ramadhan 1441 hijriah. Dan
sekarang sudah tahun 1444 hijriah. Kapan, Bunda? Kapan Maira bisa puasa lagi?
Kapan Mair